Rabu, 30 Maret 2016

pendidikan kesehatan



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pemberian ASI eksklusif sebenarnya bukanlah hal yang rumit sebagaimana dikuatirkan oleh para ibu, terutama pada ibu yang baru pertama kali melahirkan. Namun, yang menjadi penghambat dalam pemberian ASI adalah rasa takut yang tidak ada dasarnya bahwa ASI yang mereka hasilkan tidak mencukupi, kurangnya dukungan dari pelayanan kesehatan, dan kekeliruan dari keluarga bahwa bayi merasa haus atau selalu lapar, sehingga memerlukan cairan tambahan seperti susu formula, air putih serta cairan gula (Gibney, et. al.2009).
Menyusui dalam jangka panjang dapat memperpanjang jarak kelahiran karena masa amenorhoe lebih panjang. UNICEF dan WHO membuat rekomendasi pada ibu untuk menyusui eksklusif  selama 6 bulan kepada bayinya. Sesudah  umur 6 bulan, bayi baru dapat diberikan makanan  pendamping ASI (MP-ASI) dan ibu tetap memberikan ASI sampai anak berumur minimal 2 tahun.  Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan juga merekomendasikan para  ibu untuk menyusui eksklusif selama 6 bulan kepada bayinya. Oleh sebab itu penyuluhan kesehahatan tentang ASI eksklusif sebaiknya ditargetkan kesemua lapisan masyarakat, baik masyarakat diperkotaan maupun di pedesaan (Riskesdas, 2013).
Berdasarkan data dari Survei Kesehatan dan Demografi Indonesia (SKDI) tahun 2012, juga menyatakan bahwa jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi dibawah usia dua bulan mencapai 50,8 % dari seluruh bayi. Presentase tersebut semakin menurun seiring bertambahnya usia bayi, yaitu bayi 2-3 bulan sekitar 48,9 % dan bayi 4-5 bulan hanya sekitar 27 %. Yang lebih memprihatinkan adalah ada sekitar 12,5 % bayi dibawah usia 6 bulan yang tidak disusui sama sekali.
Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa persentasi pemberian ASI saja dalam 24 jam terakhir semakin menurun seiring meningkatnya umur bayi dengan persentase terendah pada anak umur 6 bulan yaitu (30,2%).Rendahnya pemberian ASI merupakan ancaman bagi tumbuh kembang anak. Seperti yang diketahui, bayi yang tidak diberi ASI, setidaknya hingga usia 6 bulan, lebih rentan mengalami kekurangan nutrisi.
Besarnya manfaat ASI tidak diimbangi oleh peningkatan perilaku pemberian ASI sehingga bayi tidak mendapatkan ASI dengan baik. Beberapa faktor diduga menjadi penyebab bayi tidak mendapatkan ASI dengan baik salah satunya adalah faktor pengetahuan ibu. Keengganan ibu untuk menyusui karena rasa sakit saat menyusui, kelelahan saat menyusui, serta kekhawatiran ibu mengenai perubahan payudara setelah menyusui. Faktor sosial budaya, kurangnya dukungan keluarga dan lingkungan dalam proses menyusui juga sangat berpengaruh terhadap proses pemberian ASI. Kurangnya pendidikan kesehatan mengenai faktor-faktor yang dapat meningkatkan  produksi ASI turut mempengaruhi pengetahuan ibu primipara yang dapat menyebabkan kurangnya volume ASI (Budiharjo, 2003; Lubis, 2010, hlm. 35).
Menurut Dinas Kesehatan Kota Semarang Puskesmas Pegandan tahun 2014 dari 444 bayi, hanya terdapat 119 (26,83%) yang mendapat ASI Esklusif. Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran ibu dalam memberikan ASI Esklusif di Kota Semarang. Jumlah bayi yang mendapat ASI Esklusif paling sedikit pertama yaitu wilayah Puskesmas Pegandan sebanyak 119 bayi atau (26,83%), yang kedua yaitu wilayah Puskesmas Pandanaran sebanyak 161 atau 29,30% dan yang ketiga di wilayah Puskesmas Genuk sebanyak 186 atau 29, 43%. Dari data tersebut maka Puskesmas pegandan merupakan wilayah yang menduduki rangking terendah, sehingga penelitian ini akan dilakukan di wilayah tersebut.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pegandanan, bayi yang diberi ASI eksklusif hingga usia 6 bulan pada tahun 2013 hanya mencapai 158 bayi (35,63%) dari 444 bayi dan pada tahun 2014 bayi yang menyusui secara eksklusif terdapat 119 bayi(26,83%) dari 444 bayi. Berdasarkan hasil survey tersebut bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif mengalami penurunan dari tahun 2013 sampai tahun 2014 dan masih jauh dari target Renstra Kota Semarang (55%).


Dari observasi dan wawancara pada ibu menyusui dan salah satu bidan Pada tanggal 19 Februari di kecamatan Gajah mungkur wilayah kerja Puskesmas Pegandan dari 13 ibu menyusui 5 diantaranya menyusui esklusif dan 8 ibu yang tidak menyusui esklusif, dimana masih banyak para ibu yang masih memberikan makanan/minuman sehari setelah bayi lahir yaitu berupa pisang, biscuit, air putih, air gula dan susu formula dengan alasan takut bayinya kelaparan dan merupakan tradisi yang turun temurun dan ada juga ibu yang mengatakan bahwa ASI nya belum keluar sehingga bayinya di berikan susu formula. Padahal bayi dibawah usia 6 bulan sistem pencernaannya masih belum siap untuk menerima/menyerap makanan padat atau cairan selain ASI, sehingga menyebabkan gangguan system pencernaan seperti konstipasi, alergi dan diare (Prasetyo, 2012).
Dari hasil survey data diatas sehingga peneliti tertarik mengambil penelitian yang berjudul “ Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Cara Memperbanyak Produksi ASI Di Wilayah Kerja Puskesmas Pegandan”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut “ Adakah Pengaruh pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak produksi ASI di Puskesmas Pegandan?”.

C.     Tujuan Penelitian
1.      Tujuan umum
Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak produksi ASI di Puskesmas Pegandan
2.      Tujuan Khusus
a)        Mendeskripsikan karakteristik Ibu Post Partum Umur, Paritas, Pendidikan dan Pendapatan.
b)        Mendeskripsikan Pengetahuan ibu Post Partum sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.
c)        Menganalisis pengetahuan ibu post partum sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.

D.    Manfaat
a)      Bagi Puskesmas Pegandan
Penelitian ini sebagai masukan bagi pelayanan kesehatan terutama untuk memperbaiki program pelayanan kebidanan dan Gizi serta menambah pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan.
b)      Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian ini di gunakan sebagai hasil pertimbangan oleh institusi pendidikan khususnya para dosen dalam mengembangkan bahan ajar, dan dapat menambah bahan pustaka serta sebagai sumber referensi di STIKES karya husada semarang
c)      Bagi ibu Post Partum
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perawatan pada saat post partum khususnya dalam meningkatkan produksi ASI dan ibu tidak ada masalah dalam menyusui
d)     Bagi Peneliti
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan wawasan penelitian serta sebagai media untuk menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama kuliah khususnya metodologi penelitian dan sebagai sumber data

E. Keaslian Penelitian
No
Nama
Penelitian dan Tahun
Judul
Penelitian
Metode Penelitian
Hasil Penelitian
Perbedaan
1.
 Amanda Anindya Putri Marshella tahun
2014
Pendidikan kesehatan tehnik menyusui dengan benar terhadap peningkatan kemampuan menyusui pada ibu post partum normal di rsud. Dr. Soewondo Kendal
Jenis penelitian ini quasi experiment, dengan menggunakan rancangan one group pretest-posttest, analisis univariat dan bivariat
Hasil penelitian yaitu terdapat pengaruh pemberian tehnik menyusui dengan benar terhadap peningkatan kemampuan ibu tentang cara menyusui pada ibu post partum normal di RSUD dr. H. Soewondo Kendal, Demikian pula saat dilakukan uji Statistik dengan menggunakan Wilcoxon Match pairs Test didapatkan hasil -4,932 dengan nilai p value 0,000 untuk kemudian dibandingkan dengan α 0,05 karena 0,000 < 0,05.
Penelitian terdahulu
a.       variable : pendidikan kesehatan tehnik menyusui dengan bernar terhadap kemampuan menyusui.
b.      Lokasi : di rsud. Dr. Soewondo Kendal
Penelitian sekarang
a.       Variable : pendidikan kesehatan tentang pengetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak
b.      Lokasi : wilayah kerja puskesmas Pegandan Kota Semarang
2.
Ina Kuswanti
2012
Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan menyusui pada ibu post partum ditinjau dari paritas
Jenis penelitian menggunakan kuasi eksperimntal dengan pre test and post test nonequivalent control group dengan metode bedside teaching dan demonstrasi menggunakan analisa univariat,  bivariat, dan multivariat
Hasil penelitian yang dilakukan pada ibu post partum di BPS Siti M dan BPS Ummu Hani menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh pendidikan dengan metode bedside teaching dan demonstrasi terhadap keterampilan menyusui terhadap ibu post partum
Penelitian terdahulu
a.       Variable : pendidikan kesehatan terhadap keterampilan menyusui.
b.      Lokasi : BPS SIti M dan Ummu Hanidi rsud. Dr. Soewondo Kendal
Penelitian sekarang
a.       Variable : pendidikan kesehatan tentang penegetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak
b.      Lokasi : wilayah kerja puskesmas Pegandan Kota Semarang
3
Emi Suryani (2013)
Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Produksi ASI ibu post partum di BPM wilayah Kabupaten Klaten
Menggunakan kuasi eksperimen dengan rancangan pre and post test design dan menggunakan analisa bivariat
Menunjukan ada perbedaan rata-rata berat badan bayi p value : 0,001 dan ada perbedaan frekuensi menyusui yang bermakna dengan p value 0,001serta  ada perbedaan lama tidur yang bermakna pvalue= 0,001
Penelitian terdahulu
a.       Variable : pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi ASI.
b.      Lokasi : BPM wilayah Kabupaten Klaten
Penelitian sekarang
a.       Variable : pendidikan kesehatan tentang penegetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak
b.      Lokasi : wilayah kerja puskesmas Pegandan Kota Semarang

4
NurScholicah
 (2011)
Hubungan perawatan payudara pada ibu post partum dengan kelncaran pengeluaran ASI
Menggunakan deskripsi korelasi dengan tehnik total sampling dan mengguankan analisa chi square
Hasil penelitian sebagian besar responden (51,6%) mempuenyai perawatan payudara pada masa nifas yang kurang baik. Ibu post partum di desa karang duren kecamatan tenggaran kabupaten Semarang sebagian besar (51,6%) mempunyai kelancaran pengeluaran ASI yang lancar. Ada hubungan antara perawatan payudara pada ibu post partum dengan kelancaran pengeluaran ASI dengan p= 0,007
Penelitian terdahulu
a.       Variable : Hubungan perawatan payudara pada ibu post partum dengan kelancaran pengeluaran ASI
b.      Lokasi : Desa karang Duren, Kecamatan Tegaran, Kabupaten Semarang
Penelitian sekarang
a.       Variable : pendidikan kesehatan tentang penegetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak
b.      Lokasi : wilayah kerja puskesmas Pegandan Kota Semarang





















\


5
Agustin Syamsianah (2010)
Hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu tentang ASI dengan lama pemberian ASI eksklusif pada Balita usia 6-24 bulan
Jenis penelitian yang diguakan adalah eksplanatory dengan metode survey dan pendekatan Crossectional, menggunakan alisis univariat dan bivariat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu balita pada kategori tingkat menengah, pengetahuan ibu balita tentang ASI tergolong sedang dan sebagian besar ibu balita memberikan ASI eksklusif kurang dari 6 bulan
Penelitian terdahulu
a.       Variable : tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu tentang ASI dengan lama pemberian ASI eksklusif
b.      Lokasi : Desa kebon agung, kabupaten pacitan Jawa timur
c.       Sampel : Ibu Balita 6-24 bulan
Penelitian sekarang
a.       Variable : pendidikan kesehatan tentang penegetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak
b.      Lokasi : wilayah kerja puskesmas Pegandan Kota Semarang
c.       Sampel : Ibu post partum