BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemberian ASI eksklusif sebenarnya bukanlah hal yang
rumit sebagaimana dikuatirkan oleh para ibu, terutama pada ibu yang baru
pertama kali melahirkan. Namun, yang menjadi penghambat dalam pemberian ASI
adalah rasa takut yang tidak ada dasarnya bahwa ASI yang mereka hasilkan tidak mencukupi,
kurangnya dukungan dari pelayanan kesehatan, dan kekeliruan dari keluarga bahwa
bayi merasa haus atau selalu lapar, sehingga memerlukan cairan tambahan seperti
susu formula, air putih serta cairan gula (Gibney, et. al.2009).
Menyusui dalam jangka panjang dapat memperpanjang
jarak kelahiran karena masa amenorhoe lebih panjang. UNICEF dan WHO membuat
rekomendasi pada ibu untuk menyusui eksklusif
selama 6 bulan kepada bayinya. Sesudah
umur 6 bulan, bayi baru dapat diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan ibu tetap
memberikan ASI sampai anak berumur minimal 2 tahun. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian
Kesehatan juga merekomendasikan para ibu
untuk menyusui eksklusif selama 6 bulan kepada bayinya. Oleh sebab itu
penyuluhan kesehahatan tentang ASI eksklusif sebaiknya ditargetkan kesemua
lapisan masyarakat, baik masyarakat diperkotaan maupun di pedesaan (Riskesdas,
2013).
Berdasarkan data dari Survei Kesehatan dan Demografi
Indonesia (SKDI) tahun 2012, juga menyatakan bahwa jumlah pemberian ASI
eksklusif pada bayi dibawah usia dua bulan mencapai 50,8 % dari seluruh bayi.
Presentase tersebut semakin menurun seiring bertambahnya usia bayi, yaitu bayi
2-3 bulan sekitar 48,9 % dan bayi 4-5 bulan hanya sekitar 27 %. Yang lebih
memprihatinkan adalah ada sekitar 12,5 % bayi dibawah usia 6 bulan yang tidak
disusui sama sekali.
Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa
persentasi pemberian ASI saja dalam 24 jam terakhir semakin menurun seiring
meningkatnya umur bayi dengan persentase terendah pada anak umur 6 bulan yaitu
(30,2%).Rendahnya pemberian ASI merupakan ancaman bagi tumbuh kembang anak.
Seperti yang diketahui, bayi yang tidak diberi ASI, setidaknya hingga usia 6
bulan, lebih rentan mengalami kekurangan nutrisi.
Besarnya manfaat ASI tidak diimbangi oleh peningkatan
perilaku pemberian ASI sehingga bayi tidak mendapatkan ASI dengan baik.
Beberapa faktor diduga menjadi penyebab bayi tidak mendapatkan ASI dengan baik
salah satunya adalah faktor pengetahuan ibu. Keengganan ibu
untuk menyusui karena rasa sakit saat menyusui, kelelahan saat menyusui, serta
kekhawatiran ibu mengenai perubahan payudara setelah menyusui. Faktor sosial
budaya, kurangnya dukungan keluarga dan lingkungan dalam proses menyusui juga
sangat berpengaruh terhadap proses pemberian ASI. Kurangnya pendidikan
kesehatan mengenai faktor-faktor yang dapat meningkatkan produksi ASI turut mempengaruhi pengetahuan
ibu primipara yang dapat menyebabkan kurangnya volume ASI (Budiharjo, 2003;
Lubis, 2010, hlm. 35).
Menurut
Dinas Kesehatan Kota Semarang Puskesmas Pegandan tahun 2014 dari 444 bayi,
hanya terdapat 119 (26,83%) yang mendapat ASI Esklusif. Hal ini menunjukkan
rendahnya kesadaran ibu dalam memberikan ASI Esklusif di Kota Semarang. Jumlah
bayi yang mendapat ASI Esklusif paling sedikit pertama yaitu wilayah Puskesmas
Pegandan sebanyak 119 bayi atau (26,83%), yang kedua yaitu wilayah Puskesmas
Pandanaran sebanyak 161 atau 29,30% dan yang ketiga di wilayah Puskesmas Genuk
sebanyak 186 atau 29, 43%. Dari data tersebut maka Puskesmas pegandan merupakan
wilayah yang menduduki rangking terendah, sehingga penelitian ini akan
dilakukan di wilayah tersebut.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan
di wilayah kerja Puskesmas Pegandanan, bayi yang diberi ASI eksklusif hingga
usia 6 bulan pada tahun 2013 hanya mencapai 158 bayi (35,63%) dari 444 bayi dan
pada tahun 2014 bayi yang menyusui secara eksklusif terdapat 119 bayi(26,83%)
dari 444 bayi. Berdasarkan hasil survey tersebut bahwa cakupan pemberian ASI
eksklusif mengalami penurunan dari tahun 2013 sampai tahun 2014 dan masih jauh
dari target Renstra Kota Semarang (55%).
Dari observasi dan wawancara pada ibu menyusui dan
salah satu bidan Pada tanggal 19 Februari di kecamatan Gajah mungkur wilayah kerja
Puskesmas Pegandan dari 13 ibu menyusui 5 diantaranya menyusui esklusif dan 8
ibu yang tidak menyusui esklusif, dimana masih banyak para ibu yang masih
memberikan makanan/minuman sehari setelah bayi lahir yaitu berupa pisang,
biscuit, air putih, air gula dan susu formula dengan alasan takut bayinya
kelaparan dan merupakan tradisi yang turun temurun dan ada juga ibu yang
mengatakan bahwa ASI nya belum keluar sehingga bayinya di berikan susu formula.
Padahal bayi dibawah usia 6 bulan sistem pencernaannya masih belum siap untuk
menerima/menyerap makanan padat atau cairan selain ASI, sehingga menyebabkan
gangguan system pencernaan seperti konstipasi, alergi dan diare (Prasetyo,
2012).
Dari hasil survey data diatas sehingga peneliti
tertarik mengambil penelitian yang berjudul “ Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Terhadap Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Cara Memperbanyak Produksi ASI Di
Wilayah Kerja Puskesmas Pegandan”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut “ Adakah Pengaruh
pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan ibu post partum tentang cara
memperbanyak produksi ASI di Puskesmas Pegandan?”.
C.
Tujuan Penelitian
1. Tujuan
umum
Mengetahui pengaruh pendidikan
kesehatan terhadap pengetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak produksi
ASI di Puskesmas Pegandan
2. Tujuan
Khusus
a)
Mendeskripsikan karakteristik Ibu Post
Partum Umur, Paritas, Pendidikan dan Pendapatan.
b)
Mendeskripsikan Pengetahuan ibu Post
Partum sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.
c)
Menganalisis pengetahuan ibu post partum
sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.
D.
Manfaat
a) Bagi
Puskesmas Pegandan
Penelitian
ini sebagai masukan bagi pelayanan kesehatan terutama untuk memperbaiki program
pelayanan kebidanan dan Gizi serta menambah pengetahuan dan keterampilan dalam
memberikan asuhan.
b) Bagi
institusi pendidikan
Hasil
penelitian ini di gunakan sebagai hasil pertimbangan oleh institusi pendidikan
khususnya para dosen dalam mengembangkan bahan ajar, dan dapat menambah bahan
pustaka serta sebagai sumber referensi di STIKES karya husada semarang
c) Bagi
ibu Post Partum
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perawatan
pada saat post partum khususnya dalam meningkatkan produksi ASI dan ibu tidak
ada masalah dalam menyusui
d) Bagi
Peneliti
Hasil Penelitian ini diharapkan
dapat menambah pengalaman dan wawasan penelitian serta sebagai media untuk
menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama kuliah khususnya metodologi
penelitian dan sebagai sumber data
E. Keaslian Penelitian
No
|
Nama
Penelitian dan Tahun
|
Judul
Penelitian
|
Metode
Penelitian
|
Hasil
Penelitian
|
Perbedaan
|
|
1.
|
Amanda Anindya Putri Marshella tahun
2014
|
Pendidikan
kesehatan tehnik menyusui dengan benar terhadap peningkatan kemampuan
menyusui pada ibu post partum normal di rsud. Dr. Soewondo Kendal
|
Jenis penelitian ini quasi experiment, dengan
menggunakan rancangan one group
pretest-posttest, analisis univariat dan bivariat
|
Hasil penelitian yaitu terdapat
pengaruh pemberian tehnik menyusui dengan benar terhadap peningkatan
kemampuan ibu tentang cara menyusui pada ibu post partum normal di RSUD dr.
H. Soewondo Kendal, Demikian pula saat dilakukan uji Statistik dengan
menggunakan Wilcoxon Match pairs Test didapatkan hasil -4,932 dengan
nilai p value 0,000 untuk kemudian dibandingkan dengan α 0,05 karena 0,000
< 0,05.
|
Penelitian terdahulu
a.
variable : pendidikan kesehatan tehnik menyusui
dengan bernar terhadap kemampuan menyusui.
b.
Lokasi : di
rsud. Dr. Soewondo Kendal
Penelitian sekarang
a.
Variable : pendidikan kesehatan tentang pengetahuan
ibu post partum tentang cara memperbanyak
b.
Lokasi : wilayah kerja puskesmas Pegandan Kota
Semarang
|
|
2.
|
Ina Kuswanti
2012
|
Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap
keterampilan menyusui pada ibu post partum ditinjau dari paritas
|
Jenis penelitian menggunakan kuasi
eksperimntal dengan pre test and post test nonequivalent control group dengan
metode bedside teaching dan demonstrasi menggunakan analisa univariat, bivariat, dan multivariat
|
Hasil penelitian yang dilakukan pada
ibu post partum di BPS Siti M dan BPS Ummu Hani menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan pengaruh pendidikan dengan metode bedside teaching dan demonstrasi
terhadap keterampilan menyusui terhadap ibu post partum
|
Penelitian terdahulu
a.
Variable : pendidikan kesehatan terhadap
keterampilan menyusui.
b.
Lokasi : BPS SIti M dan Ummu Hanidi rsud. Dr. Soewondo Kendal
Penelitian sekarang
a.
Variable : pendidikan kesehatan tentang
penegetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak
b.
Lokasi : wilayah kerja puskesmas Pegandan Kota
Semarang
|
|
3
|
Emi Suryani (2013)
|
Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap
Produksi ASI ibu post partum di BPM wilayah Kabupaten Klaten
|
Menggunakan kuasi eksperimen dengan
rancangan pre and post test design dan menggunakan analisa bivariat
|
Menunjukan ada perbedaan rata-rata
berat badan bayi p value : 0,001
dan ada perbedaan frekuensi menyusui yang bermakna dengan p value 0,001serta ada perbedaan lama tidur yang bermakna pvalue= 0,001
|
Penelitian terdahulu
a.
Variable : pengaruh pijat oksitosin terhadap
produksi ASI.
b.
Lokasi : BPM wilayah Kabupaten Klaten
Penelitian sekarang
a.
Variable : pendidikan kesehatan tentang
penegetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak
b.
Lokasi : wilayah kerja puskesmas Pegandan Kota
Semarang
|
|
4
|
NurScholicah
(2011)
|
Hubungan perawatan payudara pada ibu
post partum dengan kelncaran pengeluaran ASI
|
Menggunakan deskripsi korelasi dengan
tehnik total sampling dan mengguankan analisa chi square
|
Hasil penelitian sebagian besar
responden (51,6%) mempuenyai perawatan payudara pada masa nifas yang kurang
baik. Ibu post partum di desa karang duren kecamatan tenggaran kabupaten
Semarang sebagian besar (51,6%) mempunyai kelancaran pengeluaran ASI yang
lancar. Ada hubungan antara perawatan payudara pada ibu post partum dengan
kelancaran pengeluaran ASI dengan p= 0,007
|
Penelitian terdahulu
a.
Variable : Hubungan perawatan payudara pada ibu
post partum dengan kelancaran pengeluaran ASI
b.
Lokasi : Desa karang Duren, Kecamatan Tegaran,
Kabupaten Semarang
Penelitian sekarang
a.
Variable : pendidikan kesehatan tentang
penegetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak
b.
Lokasi : wilayah kerja puskesmas Pegandan Kota
Semarang
\
|
|
5
|
Agustin Syamsianah (2010)
|
Hubungan tingkat pendidikan dan
pengetahuan ibu tentang ASI dengan lama pemberian ASI eksklusif pada Balita
usia 6-24 bulan
|
Jenis penelitian yang diguakan adalah
eksplanatory dengan metode survey dan pendekatan Crossectional, menggunakan
alisis univariat dan bivariat
|
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tingkat pendidikan ibu balita pada kategori tingkat menengah, pengetahuan ibu
balita tentang ASI tergolong sedang dan sebagian besar ibu balita memberikan
ASI eksklusif kurang dari 6 bulan
|
Penelitian terdahulu
a.
Variable : tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu
tentang ASI dengan lama pemberian ASI eksklusif
b.
Lokasi : Desa kebon agung, kabupaten pacitan Jawa
timur
c.
Sampel : Ibu Balita 6-24
bulan
Penelitian sekarang
a.
Variable : pendidikan kesehatan tentang
penegetahuan ibu post partum tentang cara memperbanyak
b.
Lokasi : wilayah kerja puskesmas Pegandan Kota
Semarang
c.
Sampel : Ibu post partum
|
|